METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI


Oleh: Muthmainnah, S.Ag
Guru PAI dan Budi Pekerti SMP Negeri 2 OKU

Metode diskusi merupakan salah satu cara pembelajaran dengan memecahkan masalah yang dihadapi. Diskusi berasal dari kata bahasa latin “discutere”, yang berarti membeberkan masalah. Dalam arti luas diskusi berarti memberikan jawaban atas pertanyaan atau pembicaran serius tentang suatu masalah obyek. Dalam arti sempit, diskusi berarti tukar menukar pikiran yang terjadi didalam kelompok kecil atau kelompok besar (Abdul Majid, 2011 : 141).
Pada pembelajaran dengan metode diskusi ini akan lebih memberi peluang pada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran walaupun guru masih menjadi kendali utama. Adapun bentuk-bentuk diskusi dapat berupa; (1) Diskusi Kelompok Besar (Whole Group Discussion), (2) Diskusi Kelompok Kecil (Buzz Group Discussion), (3) Diskusi Panel, (4) Diskusi Kelompok, (5) Brain Storming Group, (6) Simposium, (7) Informal Debate, (8) Colloqium, (9) Fish Bowl.
Berdasarkan metode pembelajaran tersebut, diharapkan dapat; (1) melatih peserta didik mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan dan menyimpulkan bahasan; (2) melatih dan membentuk kestabilan sosio-emosional; (3) mengembangkan kemampuan berpikir sendiri dalam memecahkan masalah sehingga tumbuh konsep diri yang lebih positif; (4) mengembangkan keberhasilan peserta didik dalam menemukan pendapat; (5) mengembangkan sikap terhadap isu-isu kontroversial; dan (6) melatih peserta didik untuk berpendapat tentang sesuatu masalah.
Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Mauladi Yurmansyah (Kepala SMP Negeri 2 OKU, 6/10/2021), bahwa dari metode pembelajaran ini diharapkan akan dapat memotivasi peserta didik dalam belajar, kemudian dapat meningkatkan hasil dan prestasi belajar yang lebih baik.
Hasil belajar ini merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif, akan tampak setelah peserta didik menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung pada kedua ranah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ranah ini diklasifikasikan kedalam tujuh kategori yakni: 1) Persepsi (perception), 2) Kesiapan (set), 3) Gerakan terbimbing (guided response), 4) Gerakan terbiasa (mechanism), 5) Gerakan kompleks (complex overt response), 6) Penyesuaian Pola Gerakan (adaptation), 7) Kreatifitas/keaslian (Creativity/Origination).
Metode ini diduga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, karena dengan berdiskusi mereka lebih banyak dapat menampung ide atau gagasan dari teman-teman sekelasnya melalui media cetak ataupun elektronik (Netti Ermi, 2015).
Kegiatan guru dan peserta didik dalam pelaksanaan metode diskusi (1) Guru menetapkan pokok permasalahan dan peserta didik akan mengemukakan pokok permasalahan yang didiskusikan: (2) Guru menjelaskan tujuan diadakan diskusi; (3) Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik dengan bertanya tentang materi yang didiskusikan; (4) Peserta didik melakukan diskusi sesama peserta didik; (5) Peserta didik menelaah materi yang diajukan guru dan dapat dipahami seluruh peserta diskusi (6) Peserta didik ikut aktif memikirkan atau mencatat data dari buku-buku sumber pengetahuan lainnya agar dapat mengemukakan jawaban yang benar. Pendapat ini dapat disampaikan dengan pemikiran sendiri maupun pemikiran kelompok; (6) Mendengarkan pendapat dari kelompok lain dan menghargai kelompok yang memberikan pendapat; (7) Mencatat pendapat dari teman-teman dari kelompok lain walaupun jawaban tersebut belum dengan tepat dijawabnya; (8) Menyimpulkan hasil diskusi dari kelompok lain.
Lalu, bagaimana implementasinya terutama dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti? Dari metode diskusi didapatkan keunggulan, yaitu; (1) suasana kelas lebih hidup, sebab peserta didik mengarahkan perhatian atau pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan; (2) dapat menaikkan prestasi kepribadian individu, seperti sikap toleransi, demokrasi, berpikir kritis, sistematis, sabar, dan sebagainya; (3) kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami peserta didik karena mereka mengikuti proses berpikir sebelum sampai kepada suatu kesimpulan; (4) peserta didik dilatih belajar untuk mematuhi peraturan-peraturan dan tata tertib layaknya dalam suatu musyawarah; (5) membantu peserta didik untuk mengambil keputusan yang lebih baik; (6) tidak terjebak ke dalam pikiran individu yang kadang-kadang salah, penuh prasangka dan sempit.
Jadi manfaat metode diskusi berharga terhadap belajar peserta didik yaitu (1) Membantu peserta didik untuk mengambil keputusan yang lebih ketimbang ia memutuskan sendiri, karena terdapat berbagai sumbangan pikiran dari peserta lainnya; (2) Mereka tidak terjebak dengan jalan pikirannya sendiri yang kadang-kadang salah; (3) Segala kegiatan belajar akan memperoleh dukungan bersama dari seluruh kelompok hingga memperoleh hasil yang lebih baik; (4) Membantu mengeratkan hubungan antara kegiatan kelas dengan tingkat perhatian dan derajat dari pada anggota kelas: (4) Diskusi merupakan cara belajar yang menyenangkan dan merangsang pengalaman karena dapat merupakan pelepasan ide-ide dan pendalaman wawasan mengenai sesuatu.
Meskipun demikian metode ini juga mempunyai kekurangan apabila tidak disampaikan atau dilakukan dengan baik. Beberapa kekurangan metode diskusi yang diketahui, diantaranya yaitu: (1) hanya beberapa peserta didik yang aktif; (2) pembahasannya meluas dan keluar dari materi pembelajaran; (3) membutuhkan waktu yang cukup panjang; (4) menimbulkan emosional yang tidak terkontrol.
Guru dapat meminimalisir kekurangan metode diskusi dengan kedudukannya sebagai pemimpin utama dalam diskusi yang dilakukan oleh masing-masing kelompok peserta didik, dapat melakukan beberapa cara sebagai berikut : (1) Memberi arahan kepada peserta didik mengenai permasalahan yang akan didiskusikan terlebih dahulu. Hal tersebut membuat peserta didik mengerti batasan pembahasan, sehingga pertanyaan yang timbul nanti tidak menyimpang dari materi pelajaran; (2) Sebagai pengatur lalu lintas, yaitu mengatur jalannya diskusi agar tetap lancar. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anggota kelompok tertentu, lalu pastikan setiap anggota kelompok tidak berbicara secara serentak, serta membuka kesempatan kepada peserta didik yang pasif untuk ungkapkan pendapatnya; (3) Sebagai dinding penangkis, menampung beragam pertanyaan dari para peserta didik, lalu membiarkan mereka saling memberi jawaban. Jika ada jawaban yang kurang tepat Anda bisa menangkisnya atau memberikan jawaban yang tepat. Usahakan setiap anggota kelompok aktif berdiskusi.
Titik simpulnya implementasi metode diskusi di SMP Negeri 2 Ogan Komering Ulu untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti telah berjalan dengan baik. Dalam proses pelaksanaan metode diskusi terdapat langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, Persiapan, menentukan topik dan suatu masalah yang menarik, menjelaskan tujuan pembelajaran serta kompetensi yang dicapai, dan membuat 4 kelompok diskusi. Kedua, Pelaksanaan, memberikan materi dan suatu permasalahan untuk didiskusikan, membimbing dan menjaga suasana kelas, mempresentasikan hasil diskusi, memberi pertanyaan dan tanggapan kepada kelompok yang presentasi, memberi uraian tambahan dan memperbaiki apabila ada kesalahan, dan mengumpulkan hasil diskusinya. Ketiga, Respon Peserta didik, peserta didik menguasai materi diskusi, memiliki keterampilan bertanya dan menjawab, memiliki rasa ingin tahu, dan aktif dalam diskusi. Sejauh ini memiliki kelebihan dan manfaat baik bagi peserta didik, maupun pihak sekolah.