MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW UNTUK MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI


Oleh: Aslawaty, S.Ag
Guru PAI dan Budi Pekerti SMP Negeri 22 OKU

Model pembelajaran jigsaw adalah suatu tehnik pembelajaran kooperatif dimana peserta didik, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun tujuan dari model pembelajaran jigsaw ini mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar kooperatif, serta menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh bila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi secara sendirian. Metode pembelajaran kooperatif teknik jigsaw tidak sama dengan sekedar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mangatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning teknik jigsaw, (Anita Lie. 2008).
Ahmad Basori, S.Pd (Kepala SMP Negeri 22 OKU, 04/10/2021) mengingatkan bahwa guru sebagai pendidik yang professional sudah seharusnya pintar dalam memilih metode pembelajaran yang tepat untuk peserta didiknya. Agar apa yang diajarkan bisa dipahami peserta didik dan bermanfaat sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan efisien.
Menyadari hal tersebut beberapa guru diantaranya Guru PAI dan Budi Pekerti SMP Negeri 22 OKU mencoba menerapkan metode yang cocok berikut juga mengerti karakter peserta didik, tingkat pemahamannya sekaligus memiliki taktik tersendiri agar metode yang diterapkan itu tidak terasa membosankan.
Adapun pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah jenis pembelajaran kooperatif yang terdiri  dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian terebut kepada anggota lain dalam kelompok, (Arend, 1997). Jigsaw menggabungkan konsep pengajaran pada teman sekelompok atau sebaya dalam usaha membantu belajar. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain, (Ibrahim, 2001 : 21). Jigsaw telah dikembangkan dan diuji cobakan oleh Ellot Aronson dan kemudian diadaptasi oleh Slavin. Dalam penerapan jigsaw, peserta didik dibagi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari, menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling membutuhkan dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Para anggota dari kelompok lain yang bertugas mendapat topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Kemudian anggota tim ahli kembali ke kelompok  asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan didalam kelompok ahlinya untuk diajarkan kepada anggota kelompoknya sendiri.
Kelompok ahli  adalah kelompok yang  memiliki satu anggota dari kelompok asal. Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok semula (asal) dan berusaha mengajarkan pada anggota kelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Selanjutnya diakhir pembelajaran, peserta didik diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Kunci tipe jigsaw  adalah interdependensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.
Pembelajaran kooperatif mempunyai banyak manfaat, yaitu: (1) dapat meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif peserta didik; (2) dapat meningkatkan kemahiran sosial dan memperbaiki hubungan sosial; (3) dapat meningkatkan keterampilan kepemimpinan; (4) dapat meningkatkan kepercayaan diri; (5) dapat meningkatkan kemahiran teknologi, (Kagan (1994).
Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Drs. H. Gunadi, (Pengawas PAI Kemenag OKU, 04/10/2021), bahwa dari pembelajaran ini diharapkan dapat memotivasi peserta didik dalam belajar, kemudian dapat meningkatkan hasil dan prestasi belajar yang lebih baik.
Lalu, bagaimana implementasinya terutama dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti? model pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu : (1) mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang menjelaskan materi kepada rekan-rekannya; (2) pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat; (3) metode pembelajaran ini dapat melatih peserta didik untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Kendati demikian model pembelajaran jigsaw dalam penerapannya terdapat juga beberapa permasalahan yaitu: (1) peserta didik yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti; (2) peserta didik yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
Pendekatan kooperatif tipe jigsaw adalah suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada bentuk struktur multi fungsi kelompok belajar yang dapat digunakan pada semua pokok bahasan dan semua tingkatan untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan. Ada lima karakteristik pendekatan kooperatif tipe jigsaw yaitu: (1) listening (mendengarkan), (2) speaking student (berkata), (3) kerjasama, (4) refleksi pemikiran dan (5) berpikir kreatif.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti selama ini berfokus pada guru, sehingga pembelajaran tidak bermakna bagi peserta didik. Guru mengajar selalu menggunakan metode konvensional. Hal ini dapat diperbaiki dengan menerapkan karakteristik pendekatan kooperatif tipe jigsaw.
Pembelajaran kooperatif menekankan pada aspek sosial, yaitu terciptanya aktivitas interaksi antar anggota kelompok sehingga dapat menimbulkan interaksi antara sesama peserta didik yang saling ketergantungan. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong peserta didik aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Jigsaw juga didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Dalam pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw peserta didik lebih ditekankan mengkontruksi sendiri ilmu yang dipelajarinya menjadi pengetahuan yang akan bermakna dan tersimpan dalam ingatannya untuk periode waktu yang lama. Oleh karena itu, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sangat tepat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di kelas untuk meningkatkan minat dan perhatian peserta didik dalam pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi peserta didik di sekolah.