Kericuhan Warnai Pertandingan Perebutan Medali Perunggu

RICUH : Kericuhan mewarnai laga terakhir perebutan medali Perunggu Cabang Olahraga Futsal Porprov Sumatera Selatan XIII 2021 saat Kabupaten Pali menghadapi Kabupaten Lubuk Linggau di babak perebutan juara ke 3 di lapangan Futsal Saigon. Foto : jeki/okes.co.id


OKES.CO.ID, OKU – Kericuhan mewarnai laga terakhir perebutan Medali Perunggu Cabang Olahraga Futsal Porprov Sumatera Selatan XIII 2021 saat Kabupaten Pali menghadapi Kota Lubuk Linggau di babak perebutan juara ke 3 di lapangan Futsal Saigon.

Tensi mulai panas ketika terjadi saat pertandingan menyisakan waktu 3 menit dan kedudukan 6 – 3 untuk keunggulan Kabupaten Pali.

Petugas keamanan dari Polri, TNI dan Sat Pol PP langsung bergerak cepat meredam kericuhan yang melibatkan pemain, pelatih dan ofisial. Pertandingan terhenti sekitar 5 menit. Setelah suasana kondusif, pertandingan dilanjutkan. Hingga laga berakhir kedudukan tidak berubah 8 – 5 untuk kemenangan Kabupaten Pali.

Ternyata kericuhan terjadi kembali ketika pertandingan selesai dan ketika berjabat tangan. Bahkan kembali Petugas keamanan dari Polri, TNI dan Satpol PP harus memasuki lapangan futsal. Bahkan di bench pemain sempat ribut dan dilerai panitia lokal.

Selama pertandingan memang tensi tinggi menyelimuti laga ini. Kedua tim sama-sama ngotot tak ingin pulang dengan tangan hampa tanpa membawa medali dalam ajang porprov ke XIII OKU Raya tahun 2021.

RICUH : Kericuhan mewarnai laga terakhir perebutan medali Perunggu Cabang Olahraga Futsal Porprov Sumatera Selatan XIII 2021 saat Kabupaten Pali menghadapi Kabupaten Lubuk Linggau di babak perebutan juara ke 3 di lapangan Futsal Saigon. Foto : jeki/okes.co.id

Babak pertama pertandingan berjalan aman dan lancar, PALI lebih dahulu menunjukan eksistensinya dengan mebobol jaring pertahanan Lubuk Linggau lewat akbar di menit ke 4.

Hal ini tak membuat gentar pemain Lubuk Linggau, pemain Lubuk Linggau mencoba mengambil alih permainan, tendangan keras yang di lakukan mengenai kaki pemain PALI sehingga tercipta Gol Bunuh Diri dimenit 8. Skor 1 – 1 untuk kedua tim.

Kemudian di menit ke 11 Ucok (PALI) kembali menambah golnya dengan memanfaatkan kelengahan lini belakang Lubuk Linggau, namun tak berselang lama Lubuk Linggau berhasil menyamakan kedudukan skor 2 – 2 bertahan hingga babak pertama berakhir.

Pada babak kedua masing- masing tim mulai memanas bahkan sempat terjadi keributan. Kedua tim saling beradu skill sehingga menghasilkan skor akhir 7- 5.

Keributan itu berawal dari kontak Fisik antara pemain Lubuk Linggau dengan penjaga gawang Pali, namun berhasil ditengahi oleh wasit .

Keributan kembali terjadi saat salah seorang pemain PALI hendak keluar lapangan selepas pergantian pemain, entah siapa yang memulai terjadi keributan di tempat pendukung Lubuk Linggau saat pemain PALI melewati mereka.

Bahkan wasit sempat menskor jalannya pertandingan. Tak sampai disitu di menit terakhir pertandingan pemain Pali menambah Gol sehingga skor menjadi 8- 5 kemenangan untuk PALI.

Usai pertandingan keributan makin menjadi, pihak kepolisian dan kemanana mencoba bernegosiasi dengan pelatih dan official masing-masing. Sehingga keadaan dapat dikendalikan.

Dengan kemenangan ini PALI berhasil keluar sebagai juara ketiga dan meraih medali perunggu.

Saat ditemui usai pertandingan Surahmat dari official tim futsal Lubuk Linggau saat diwawancarai mengaku kecewa dengan hasil pertandingan yang berat sebelah ini. “Kita kalah, tapi dari segi permainan wasit tidak berpihak pada kita mungkin condong ke Pali ya mungkin di bayar kali wasitnya. Karena saya tahu dari malam tadi memang, Pali sudah nekani wasit sama ketua AFc sumsel untuk memenangi Pali. Terlihat dari permainan tadi banyak fokus yang dilakukan oleh Pali tapi tidak di berikan oleh wasit,” ungkapnya.

Selain itu menurut Surahmat ada pemain Pali yang jatuh di belakang arena bench pemain kami terus dan ngadu sama official kalau di apa – apain. “Jelas -jelas kami tidak berbuat apa – apa kepada pemainnya melainkan jatuh sendiri, eh tiba – tiba datang pelatih pali datang langsung menampar pemain kami. Tadi pelatih kita membawa pemain kita ke rumah sakit buat di visum dan mungkin nanti kita akan ke polres,” ungkapnya.

Sementara itu pelatih Pali Zulkarnain membantah kalau menampar salah satu pemain Pali. “Memang pertandingan kali ini cukup keras, jadi kita habis – habisan. Apalagi cuma memperebutkan juara emas, perak dan perunggu. Jadi untuk soal insiden ini hal yang biasa selama masih dalam pertandingan. Selain itu juga keributan tadi mungkin untuk memprovokasi kami, yang kita sempat unggul dan anak – anak tadi sempat terpancing. Dan untuk menampar itu tidak, jadi ada pemain kita yang keluar dan lewat bench lawan, terus ada hadangan dari kiper lubuk linggau dan pelatih tadi pengakuan dari pemain kita melempar botol aqua kepada pemain kita. Makanya saya pribadi langsung mengamankan pemain saya, langsung tanya dan tidak ada yang mengaku. Kemudian ada yang nyolot saya tahan aja agar tidak terjadi keributan disitu dan bukan menampar tapi melerai. Kita juga rugi kalau kalau terpancing dan di diskualifikasi,” ungkapnya.

Selain itu Zul berharap kedepannya untuk lapangan futsal harus yang standar. Dan ini jiga efek dari lapangan yang sempit sehingga terjadi benturan. “Untuk keputusan wasit juga sudah tepat, karena kita sama – sama mendapatkan kartu merah. Cuma kita bisa memanfaatkan peluang. Alhamdulillah hasil pertandingan hari ini puas, apalagi ada peningkatan dari sebelumnya kita hanya masuk 8 besar dan sekarang meraih medali perunggu. Tahun depan insya allah emas, karena kita pembinaan dengan proses bukan protes,” ungkapnya. (jpn)