Berita Panjang

Ujian ketiga: apakah itu ucapan seorang presiden yang lagi menjabat atau itu ucapan pribadi yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum. Kongres Amerika memang lagi menyelidiki pendudukan gedung wakil rakyat itu. Sudah bersidang puluhan kali. Sudah pula memanggil lebih dari 50 orang untuk dimintai keterangan. Salah satunya: Kepala Staf Gedung Putih di zaman Trump.

Sang jenderal tidak mau menyerahkan e-mail apa saja yang pernah ia terima dari Gedung Putih. Sampai sang jenderal ditetapkan telah melanggar hukum: mengabaikan/menghina parlemen. Semua hasil pemeriksaan tim penyelidik memang mengarah ke Trump. Bahwa harus lewat begitu banyak yang harus diperiksa itu ibarat makan bubur: harus dari pinggirnya. Bukan hanya parlemen yang akan memanggil Trump –pada saatnya. Pun pengadilan.

Berbagai gugatan perdata sudah diajukan ke pengadilan. Yang mengajukan adalah anggota DPR dari Demokrat. Yang hari itu sampai merasa terancam keselamatan mereka.

Saya mencoba membaca berita yang amat panjang di USA Today itu: tidak kuat. Tidak menarik. Tidak ada satu pun dari 700 nama itu yang saya kenal. Semuanya kan orang Amerika.

Saya mengagumi kerja jurnalistik seperti itu: menyajikan secara utuh 700 nama tersangka lengkap dengan nama, umur, asal, dan apa yang mereka lakukan selama lebih dari 5 jam menduduki gedung parlemen.

Saya pernah melakukan ”kegilaan” jurnalistik mirip itu. Yakni, memuat satu berita yang panjangnya sampai lima halaman koran. Anehnya, koran justru laris. Jadi buah bibir pula. Meski sangat panjang, beritanya sendiri memang menarik. Ada unsur seks, pembunuhan, harta, dan pangkat.

Yakni, ketika seorang wanita, germo para pelacur di Gang Doly, disidangkan di pengadilan Surabaya: dia membunuh beberapa orang dengan bantuan seorang kolonel. Lokasi pembunuhan di kompleks pelacuran terbesar se-Asia Tenggara itu –sudah ditutup Wali Kota Bu Risma. Saya minta kepada wartawan untuk memuat apa adanya semua yang diucapkan hakim, jaksa, pembela, dan terdakwa di sidang pengadilan.

Wartawannya tidak perlu mikir panjang. Di bagian pertama hanya perlu menulis seperti umumnya skenario film. Hakim diperankan oleh siapa. Jaksa oleh siapa. Pembela oleh siapa. Terdakwa siapa.

Penulisnya siapa. Selebihnya berupa kutipan tanya jawab. Termasuk dialog-dialog transaksi seks yang lucu-lucu.

Waktu itu belum ada TV yang bisa live dari ruang sidang. Atau belum mau. Itu gaya jurnalisme yang tidak mungkin lagi dilakukan sekarang. Namun, kini saya berpikir ulang: apa pentingnya jurnalisme seperti itu. Hanya soal memuaskan selera pembaca. Beda dengan yang dilakukan USA Today saat ini: yang penuh perjuangan hukum dan demokrasi. (*)

Pos terkait