Dicarikan Kerja Jadi SPG Rokok, Eh Sekarang Malah Cemburuan

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK SUWANDONO)

Jadi Karin memang serba salah. Niat bekerja untuk nambah beli empal gentong, eh malah jadi pemicu perceraian.

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

KARIN, 25, memutuskan jadi SPG rokok sudah atas sepersetujuan Don­wori, 29. Suaminya pula yang mencarikan jalan. Mengenalkan Karin pada sebuah agensi untuk direkrut jadi SPG.

Awal-awal Karin kerja, Donwori biasa-biasa saja. Ia bahkan beberapa kali ikut ngantar maupun menemani Karin menawarkan rokok dari warkop ke warkop. “Ya biasa aja. Santai aja. Dia nggak pernah marah, protes atau ngomel,” cerita Karin.

Donwori mulai cerewet ketika Karin sering pulang malam, di atas jam 21.00. Pulang dalam keadaan capek, kadang-kadang marah karena rokok tak laku, eh Karin kena semprot Donwori. “Opo aku gak tambah mangkel. Wong sing nyuruh kerja juga dia,” tegasnya.

Tapi Karin masih bisa ngerem kesabarannya. Namun, Ketika Donwori sudah mulai main tangan alias KDRT, Karin tak terima. Ia merasa dihina, dianggap perempuan yang tak bermartabat. “Namanya juga SPG, apalagi yang aku jual rokok. Digoda cowok kan sudah risiko. Yang penting aku kan gak ngladeni. Gitu lho kok masih bisa cemburu,” papar perempuan dengan kaki jenjang itu.

Karena Donwori tetap tak berubah dengan sikapnya, Karin pun memilih menyudahi pernikahannya yang baru berjalan belasan bulan itu. Baginya, Donwori hanyalah pria yang mau enaknya aja.

“Kalau gak mau aku disentuh-sentuh sama cowok-cowok di luar sana, ya jangan nyuruh aku kerja do ng. Cukupi kebutuhanku,” tegasnya, diplomatis, ditemui radar Surabaya di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya, kemarin (25/6). (*/opi/Radarsurabaya.id)

(sb/gin/jay/JPR)